5 Tips Lolos Sertifikasi Halal Pabrik Tahu Juragan Tahu Wajib Simak !
Bagi para "Juragan Tahu", tahun 2026 adalah momen pembuktian. Persaingan semakin ketat, konsumen semakin cerewet soal kebersihan, dan pasar modern (Supermarket/Hotel) mewajibkan Sertifikat Halal bagi setiap suplier tahu yang masuk.
Banyak pengusaha tahu berpikir: "Ah, tahu kan cuma kedelai sama air, pasti otomatis halal."
Pemikiran ini berbahaya. Dalam audit sertifikasi halal, proses produksi tahu memiliki beberapa celah yang bisa menyebabkan "Gagal Lolos" jika tidak disiapkan dengan benar. Berikut adalah 5 tips kunci agar proses sertifikasi pabrik tahu Anda berjalan mulus.
1. Pastikan Status Halal Cuka & Batu Tahu
Tahu tidak akan menggumpal tanpa koagulan (bahan penggumpal). Ini adalah bahan kritis pertama yang dicek auditor.
- Cuka Makan (Asam Asetat): Jika Anda menggunakan cuka botolan atau jerigen pabrikan, WAJIB pilih merek yang sudah ada Logo Halal-nya. Jangan tergiur cuka curah murah tanpa label, karena asal-usulnya tidak jelas (syubhat).
- Batu Tahu (Cioko/Calcium Sulfate): Umumnya aman karena bahan mineral, namun tetap harus dicantumkan mereknya dalam daftar bahan (PPH).
- Biang (Air Tahu Fermentasi): Jika menggunakan cara tradisional (biang), pastikan wadah penyimpanannya tertutup rapat dan SUCI. Jangan sampai wadah biang tersebut terbuka dan berisiko terkena najis (kotoran cicak/tikus).
2. Pewarna Tahu Kuning: Jangan Asal Kuning!
Khusus produsen Tahu Kuning (Tahu Takwa/Bandung), pewarna adalah titik paling rawan.
- Kunyit Alami: Ini paling aman dan disukai auditor. Tidak perlu sertifikat halal, cukup foto kunyitnya.
- Pewarna Sintetik (Serbuk/Cair): Hati-hati! Pewarna tekstil dilarang keras (berbahaya). Jika pakai pewarna makanan (Food Grade), Anda WAJIB melampirkan Sertifikat Halal dari produsen pewarna tersebut.
3. Sterilkan Area Produksi dari Hewan
Seringkali pabrik tahu tradisional bersifat terbuka (semi-outdoor). Masalah utamanya adalah hewan yang berkeliaran.
- Aturan Audit: Area produksi (perendaman, penggilingan, perebusan) harus BEBAS dari hewan peliharaan (Kucing, Ayam, Anjing) dan hama (Tikus).
- Jika ada ayam yang berjalan di dekat bak perendaman kedelai, atau kucing tidur di atas tumpukan karung, auditor bisa menyatakan area tersebut Terkontaminasi Najis. Pasang sekat atau jaring kawat sederhana untuk mencegah hewan masuk.
4. Drum & Wadah Perendaman Harus Jelas
Banyak pabrik tahu menggunakan drum plastik biru bekas untuk menampung air atau merendam kedelai.
- Titik Kritis: Darimana asal drum bekas tersebut? Jika drum itu bekas wadah bahan kimia non-halal (misal: bekas lemak babi atau alkohol industri), maka drum itu HARAM dipakai selamanya, meskipun sudah dicuci.
- Solusi: Gunakan drum baru, atau drum bekas bahan pangan (misal: bekas sirup glukosa) yang sudah dicuci bersih secara syariat.
5. Simpan Bon Belanja (Bukti Traceability)
Kelemahan UMKM tahu adalah administrasi. "Beli garam ya beli aja di warung, nggak minta bon."
- Saat audit, Anda harus bisa membuktikan bahwa Garam, Cuka, dan Bumbu yang dipakai adalah merek yang sesuai didaftarkan.
- Mulai sekarang, biasakan minta Nota/Bon setiap belanja bahan baku. Simpan nota tersebut sebagai bukti ketelusuran (Traceability) jika sewaktu-waktu ditanya auditor.
Mau Tahu Anda Naik Kelas ke Supermarket?
Pasar becek mulai ditinggalkan. Konsumen milenial belanja tahu di supermarket yang bersih dan berpendingin. Syarat utamanya satu: Label Halal & Izin Edar.
Jangan biarkan tahu produksi Anda kalah saing hanya karena kurang legalitas. PT. Bikin Halal Indonesia siap mendampingi Juragan Tahu untuk membereskan dokumen halal, dari Cuka sampai SOP Kebersihan.
Konsultasi Halal TahuArtikel ini disusun berdasarkan standar Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). Pastikan seluruh bahan tambahan pangan (BTP) yang digunakan memiliki izin edar BPOM/PIRT yang valid.
